
Menurut Anggowarsito (2018) mencegah kerusakan kuku yaitu sebagai berikut:
- Tidak menggigit kuku dan mengorek kutikula terlalu dalam
- Tidak mencabut tepi kuku karena sebagian jaringan kulit di sekitar akan ikut tercabut
- Tidak menggunakan produk perawatan kuku yang keras, seperti Toluene, Formaldehyde dan Dbutyl phthalate (DBP). Tetapi menggunakan produk perawatan kuku alami seperti Emtrix, OPI Cuticle Revitalizer Oil dan Ezflow Cuticle Oil.
- Jaga kuku tetap kering dan bersih
- Gunakan gunting kuku pribad saat memotong kukuui, potong kuku secara lurus dan gunting ujungnya secara lengkung serta potong kuku secara rutin.
- Jika memiliki kuku palsu, periksa secara teratur untuk perubahan warna kuku aslinya
Sumber:
Anggowarsito, J. L. (2018). Kuku sebagai petunjuk penyakit lain. Jurnal Widya Medika, 4(2), 134-142. Retrieved from http://journal.wima.ac.id/index.php/JWM/article/view/1819.






Menurut Febriana (2016) kuku atau Unguis menurut kamus kedokteran Dorland adalah “Lempengan kulit bertanduk pada permukaan dorsal ujung distal falang terminal jari tangan atau jari kaki, yang tersusun dari kerak-kerak epitel yang memipih dan berkembang dari stratum lucidum kulit”. Pengertian kuku pada umumnya adalah bagian tubuh manusia yang bersifat keras, tumbuh di ujung jari dan berfungsi sebagai pelindung.